Pantaskah Aku Bahagi

Ia datang dengan langkah pelan, duduk di kursi konseling sambil menunduk. Tangannya saling menggenggam, seolah menahan sesuatu yang terlalu berat untuk diletakkan di meja. Beberapa menit berlalu dalam keheningan, hingga akhirnya ia mengangkat wajahnya dan bertanya dengan suara yang hampir bergetar,
“Pantaskah aku bahagia?”

Pertanyaan itu tidak terdengar seperti kalimat sederhana. Ia membawa cerita tentang masa lalu yang penuh rasa bersalah, kegagalan yang belum selesai, dan luka yang belum sempat sembuh. Baginya, kebahagiaan terasa seperti hak orang lain—mereka yang hidupnya “lebih baik”, “lebih benar”, atau “lebih sempurna”.

Dalam sesi konseling, perlahan ia bercerita. Tentang bagaimana ia terbiasa menomorduakan dirinya sendiri. Tentang keyakinan bahwa ia harus terus menebus kesalahan, bahkan ketika luka sudah terlalu lama dipikul sendirian. Ia merasa jika ia bahagia, maka ia sedang mengkhianati masa lalunya.

Konseling tidak memberinya jawaban instan. Tidak ada kalimat ajaib yang langsung menghapus rasa bersalah itu. Yang ada hanyalah ruang aman untuk melihat dirinya dengan lebih jujur dan lembut. Ia mulai menyadari bahwa rasa sakit tidak pernah menghapus nilai dirinya sebagai manusia. Bahwa bertahan sejauh ini saja adalah sebuah usaha yang layak dihargai.

Di akhir sesi, pertanyaannya tidak langsung berubah menjadi keyakinan. Namun ada jeda kecil—sebuah napas panjang—seolah untuk pertama kalinya ia memberi izin pada dirinya sendiri untuk mempertimbangkan kemungkinan itu. Mungkin kebahagiaan bukan hadiah bagi mereka yang sempurna, melainkan ruang pemulihan bagi mereka yang lelah.

Ia pulang tanpa jawaban pasti. Tetapi ia membawa sesuatu yang baru: kesadaran bahwa mempertanyakan kelayakan bahagia adalah tanda bahwa hatinya masih hidup, masih berharap, dan masih ingin sembuh.

Terima kasih sudah mau berproses bersama dan memberi kesempatan untuk membuktikan pada dirimu bahwa kamu berharga.

 

Penulis: Kusuma Dewi Fitria